Custom Search
Friday, April 25, 2014
MANUSIA TAQWA MANUSIA SUPER
MANUSIA TAQWA MANUSIA SUPER
Kita sebagai umat Islam sangat ingin sekali jadi
orang yang bertaqwa. Berlapar-lapar sebulan penuh pada bulan Ramadhan yang
diinginkan menjadi manusia bertaqwa. Manusia taqwa mulia dimata manusia lebih
mulia lagi di mata Allah. 1. Kalau ada orang yang rajin, orang taqwa manusia
paling rajin. 2. Kalau ada orang yang takut pada Allah, orang taqwalah paling
takut pada Allah. 3. Kalau ada orang yang paling manis senyuman, orang taqwalah
yang paling manis senyumannya. 4. Kalau ada orang yang sabar, orang taqwalah
yang paling tinggi kesabarannya. 5.
Kalau ada orang yang pemurah, orang taqwalah orang yang paling pemurah. 6.
Kalau ada orang yang paling mudah urusannya, orang taqwalah yang paling mudah
urusannya. 7. Kalau ada orang yang halus perasaannya orang taqwalah yang paling
halus persaannya. 8. Kalau ada orang yang jujur, orang taqwalah orang yang
paling jujur. 9. Kalau ada orang yang bersih hatinya, orang taqwalah manusia
yang paling bersih hatinya. 10. Kalau ada orang yang mengejar dunia, orang
taqwa adalah orang yang dikejar dunia.
Banyak lagi kemuliaan yang didapatkan oleh orang
yang taqwa. Alhamdulillah selesai ibadah Ramadhan ini dapatlah kita mengukur
tingkat taqwa yang telah kita capai. Sebab orang taqwa itu pasti orang yang
sangat paham tentang kehidupan dunia dan sangat harap pada hidup ke dua nanti
jauh lebih bahagia. Hidup akhirat adalah hidup balasan, sedangkan hidup di
dunia adalah hidup amalan. Di akhirat nanti darul jazak (kampung balasan)
tergantung amalan hidup di dunia ini. Bagaimana kiri kanan pribadi-pribadi
munafik, fasik mungkin saja mewarnai kehidupan kita. Tetaplah berlindung pada
Allah agar Allah pelihara kita dari jahatnya diri sendiri dan godaan syaitan
laknatullah. Bisa saja orang bersalah tidak merasa bersalah, orang jahat merasa
baik. Beribu-ribu godaan syaitan dan nafsu. Ya Allah selamatkan kami, jadikan
kami satu barisan dengan junjungan kami Nabi besar Muhammad SAW. Amin
Thursday, June 13, 2013
Puasa Sebagai Penghayatan kehadiran tuhan
Makna puasa adalah imsak atau
mencegah makan, minum dan masuknya sesuatu yang mempunyai hubungan dengan
kerongkongan. Termasuk juga mengekang hawa nafsu hubungan intim dengan
suami-isteri sejak terbitnya fajar shodiq hingga terbenamnya matahari, disertai
dengan niat berpuasa. Perintah puasa ini didasarkan atas QS. Al baqoroh ayat:
183 dan beberapa hadits diantaranya adalah “berpuasalah karena melihat (hilal
ramadhan) dan berbukalah (idul fithri) karena melihat hilal, apabila terhalang
maka genapkanlah bilangan sya’ban menjadi 30 hari”.
Prakteknya, berpuasa itu sangat mudah kalau kita
pahami secara syar’i seperti makna imsak di atas, akan tetapi jika digali lebih
dalam lagi, dalam berpuasa akan menemukan makna, bahwa puasa itu mendidik untuk
menciptakan pribadi yang selalu menyelam dalam lautan kemahahadiran Allah swt.
Allah senantiasa ikut serta secara intens mengawasi setiap gerak
langkahaktivitas manusia.Bisa dibayangkan, betapa mudahnya seseorang makan di dalam kamar di siang bolong kemudian keluar kamar menunjukkan performa orang puasa, tentu semua orang lain bahkan keluarga terdekatpun (keluarga) akan tertipu dan menduga orang tersebut masih berpuasa. Berpura-pura itu tidak terjadi karena dalam pribadi orang yang berpuasa selalu merasakan kemahahadiran Allah swt sebagai Tuhan yang maha tahu.
Celakanya, penghayatan seperti itu hanya berlaku untuk makan-minum dan berhubungan intim suami-isteri di bulan ramadhan saja, sehingga setelah lepas dari bulan ramadhan seolah keranjingan dan berbalik seperti semula. Puasa yang notabenenya mendidik ketaqwaan menjadi kehilangan misi profetisnya.
Diantara misi puasa adalah mendidik diri merasa hamba yang terus diawasi oleh Allah, sehingga menimbulkan pribadi baik yang bertaqwa dimanapun berada. (ittaqillaaha haitsu ma kunta) yang tak korupsi, tidak berbuat aniaya terhadap sesama dan tidah menciptakan suasan keruh dan lain lain. Ia takut karena Allah mengawasinya, Allah tidak melupakan hambanya di dunia disebabkan sibuk mengurusi makhluknya yang di langit, dan jika sudah tertanam mendalam dalam setiap insan shoimiin maka keadaan bangsa dengan misi puasa sebagai landasan praktisnya maka bersih dari korupsi dan segala bentuk pencurian lainnyaMakna puasa adalah imsak atau mencegah makan, minum dan masuknya sesuatu yang mempunyai hubungan dengan kerongkongan. Termasuk juga mengekang hawa nafsu hubungan intim dengan suami-isteri sejak terbitnya fajar shodiq hingga terbenamnya matahari, disertai dengan niat berpuasa. Perintah puasa ini didasarkan atas QS. Al baqoroh ayat: 183 dan beberapa hadits diantaranya adalah “berpuasalah karena melihat (hilal ramadhan) dan berbukalah (idul fithri) karena melihat hilal, apabila terhalang maka genapkanlah bilangan sya’ban menjadi 30 hari”.
Sumber : http://ceramahsingkat.blogspot.com/
Manusia bisa lebih dari Iblis
Sombong termasuk sifat yang
membahayakan keimanan, modalnya melakukannya tidak mahal, tetapi bisa membuat
seseorang defisit amal baik yang luar biasa besar. Iblis pada mulanya adalah
bala tentara Allah sejenis para malaikat Allah, ttapi menentang perintah Allah
untuk sujud (penghormatan) kepada Adam as yang terbuat dari tanah, Allah pun
berfirman dengan nada bertanya: "Apa yang membuatmu tidak bersujud ketika
Aku perintahkan?" Iblis menjawab," Aku lebih baik dari pada dia.
Engkau ciptakan aku dari api sedangkan ia Engkau ciptakan dari tanah."
Menanggapi sikap sombong Iblis yang tidak mau bersujud itu kemudian Allah
berfirman "Turunlah engkau dari surga karena tidak pantas engkau berlaku
sombong di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya engkau termasuk orang yang
hina."(QS.al-A'raf: 13)
Iblis yang sebelumnya telah beribadah selama 6 ribu tahun lamanya –wallahu a’lam apakah tahun dunia atau alam lain--, melakukan kesombongan satu kali saja membuat dirinya terlempar jauh sekali dari rahmat Allah, meski Iblis mengakui bahwa Allah adalah tuhan semesta alam. Bagaimana dengan manusia yang melakukan kesombongan berkali-kali??
Surga diharamkan bagi orang orang yang di dalam hatinya masih bercokol sebiji atom sekalipun rasa sombong, Rasulullah saw bersabda; "Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan meski sebutir atom."(HR. Muslim dari Abdullah bin Mas'ud ra). Sebutir atom yang tidak terlihat kasat mata saja dapat menghalangi perolehan kenikmatan surga seluas langit dan bumi, lalu bagaimana dengan pribadi kita yang seringkali menyombongkan diri dengan keberhasilan usaha dan ilmu pengetahuannya?? Tentu akan lebih jauhlagi ketimbang iblis laknatullah, kalau tidak mendapat rahmat dari Allah swt.
Hadits bahaya sombong di atas menggetarkan seorang laki-laki yang mendengarnya dan ia pun bertanya kepada Rasulullah saw," Seseorang itu tentu senang kalau pakaiannya bagus dan sandalnya pun indah. Apakah itu sombong?" Beliau saw menjawab pertanyaan tersebut dan menerangkan hakikat sombong," Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran (bathru al-Haq) dan merendahkan orang lain (ghamtu al-Nâs).
Rupanya kisah iblis, bukan berakhir di golongannya saja, Hamba Allah yang bernama manusia ini, ketika lepas kendali bisa berbuat lebih jahat daripada Iblis dalam sifat sombongnya, misalnya Fir'aun, ia lebih sombong daripada iIblis. Kesombongan Iblis masih mengakui bahwa Allah adalah tuhan penciptanya, tetapi Fir'aun mengaku sebagai tuhan sang pencipta, seperti yang dikatakan di dalam Al Qur’an: " Ana Rabbukum al-A'lâ (Akulah Rabb kalian yang paling tinggi)."
Kalau Fir’un sombong karena kekuasaannya, lain lagi dengan Qarun yang sombong karena hartanya. Saking berlimpahnya harta kekayaannya, untuk memikul kunci-kunci tempat penyimpanan hartanya saja tidak kuat dipikul orang-orang kuat sekalipun. Menjawab ajakan untuk beramal menggunakan Qorun dengan angkuh dan sombong mengatakan: "Harta ini aku dapatkan karena ilmuku."(QS.al-Qashash: 78). Kemudian Qarun dan hartanya dibenamkan oleh Allah swt.
Hanya Mengaku
Manusia pada hakekatnya adalah makhluk miskin, bumi tempat kita berpijak, sebelum kita dan orang tua kita terdahulu diciptakan, tanah ini sudah ada, itu berarti tanah ini bukan milik kita seutuhnya, bahkan sebelum Adam as tanah inipun sudah ada. Kalau saat ini kita katakan milik kita, itu hanya pengakuan manusia saja. Manusia tukang mengakui harta yang hakekatnya bukan milik pribadinya secara hakiki, karena itu tidak patut disombongkan.
Saat ini kita bisa mengatakan, ”ini tangan-ku, ini kakiku, ini pakaianku,” tapi 100 tahun lagi kita sudah tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, bahkan nama kita-pun ikut terbenam ke dalam tanah yang kita injak setiap hari ini. Yang patut berlaku sombong hanya Allah swt. "Kebesaran adalah pakaian-Nya dan kesombongan adalah selendang-Nya. (Allah Ta'ala berfirman): Barang siapa menyaingi Aku pada keduanya pasti Aku azab ia." (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra)
Semoga kita bukanlah hamba Allah yang masuk ke dalam bujuk rayu iblis terlaknat itu, dan marilah terus menyadari sepenuhnya bahwa apa yang kita miliki ini adalah pemberian Allah, sekecil apapun pemberian itu harus di syukuri, dengan ucapan dan tindakan.
Sunday, December 9, 2012
Monday, August 27, 2012
Friday, August 10, 2012
Bahaya Lidah
1. Fitnah (Berkata bohong dengan maksud menjelekkan orang lain)
10. Berdebat kusir / berbelitbelit (membahas suatu hal yang tidak ada ujungnya)
11. Menyebar rahasia orang lain
12. Menambah kata-kata yang tidak perlu
2. Ghibah ( Membicarakan kejelekan orang lain), Firman Allah : Al-HUjurat : 12: dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah kamu suka memakan daging saudaramu yang sudah mati?.
3. Berkata Bohong ( Berkata tidak sesuai dengan kanyataan)
4. Munafik (Pura-pura beriman padahal hatinya engkar, apa yang dikatakan selalu tidak sesuai dengan kebenaran),
“Ciri-ciri orang munafik itu ada tiga yaitu bila berkata dusta, apabila berjanji ingkar, apabila diberi amanah ia mengkhianati
5. Mengumpat dan mencaci orang lain (dengan kata kasar, persoalan tidak akan selesai)
6. Mempermainkan atau mengejek manusia
7. Mengadu domba ( Membat sesorang berselisih dengan yang lainnya)
8. Melontarkan kata-kata kotor dan kasar (Ketika emosi meluap, kata2 kadang tidak terkontrol lagi)
9. Bertengkar10. Berdebat kusir / berbelitbelit (membahas suatu hal yang tidak ada ujungnya)
11. Menyebar rahasia orang lain
12. Menambah kata-kata yang tidak perlu
Sunday, July 22, 2012
Bersih hati dari iri dan dengki
Lihatlah suasana orang yang dilanda iri dengki, hatinya selalu risau dan
larut dalam kebencian. Terlebih lagi jika orang yang didengki
memperoleh keberhasilan dan mendapat nikmat. Inginnya nikmat tersebut
segera sirna musnah tak berbekas. Jika dibiarkan, perasaan iri akan
menjadi menjadi bibit dosa lain dan awal bergulirnya pelanggaran
perintah Allah. Iblis menjadi mahluk terlaknat berawal dari iri, begitu
pula pembunuhan pertama yang dilakukan manusia juga bermotifkan iri.
Berhenti, jangan teruskan!
Rasa
iri bisa membuat orang gelap mata dan memandang selalu dengan suudzan.
Kadang kebencian ini ditularkan kepada orang lain. Dikatakannya bahwa
keberhasilan yang diraih orang yang dibencinya lewat jalan yang tidak
benar. Ada juga yang mencibir, menebar fitnah bahkan membuat makar. Bila
sudah begitu iri hati lebih berbahaya daripada sakit kronis yang susah
diobati.
Dengki timbul karena tiupan setan, karena itu segera
redam dengan ber-taawwudz kepada Allah. Caranya dengan membaca ayat
kursi dan muawwidzatain. Atau membaca, “Audzu bikalimatillahi at tammah
min syarri ma khalaq.” (aku berlindung kepada kalimat allah yang
sempurna dari kejelekan mahluk-Nya). Selagi iri hati belum berkobar,
hentikan sekarang juga dan jangan teruskan!
Takdir Allah Tak Pernah Salah
Seorang ahli hikmah mengatakan, jika dilihat dari sisi takdir orang yang iri berarti sedang menantang tuhan. Alasannya ialah; pertama, membenci nikmat-Nya yang diberikan kepada orang lain. Kedua, merasa bahwa Allah tidak adil dalam membagi karunia. Ketiga, menganggap bahwa Allah bakhil terhadap dirinya. Keempat, menganggap hina hamba Allah dan menyanjung dirinya sendiri dan kelima, lebih menuruti bisikan iblis daripada perintah Allah. Rasa iri dengki tersebut muncul karena melihat orang lain memiliki kelebihan yang tak ia miliki. Bisa jadi berupa harta, bakat atau keahlian tertentu. Kebencian ini menjadi lebih besar bila orang yang didengkinya lebih rendah kedudukannya.
Semua nikmat
dan kelebihan yang dimiliki hamba tak lain adalah bagian dari qadha’ dan
qadar. Manusia tidak dikatakan beriman jika tidak mengimaninya. Allah
memiliki sifat al ‘alim (dzat yang maha tahu) yang menentukan segalanya
dengan ilmu-Nya. Karena itu memberi hambanya segala sesuatu yang terbaik
baginya. Tugas manusia adalah meyakini sepenuhnya bahwa semua
kenikmatan tersebut berasal dari Allah dan dibagikan sesuai dengan
hikmah.
Tidak semua nikmat dapat membuat hamba bersyukur. Ada
hamba yang lebih baik miskin daripada kaya. Sebab kemiskinan dapat
membuatnya bersyukur bukan kekayaan. Misalnya adalah Qarun, yang dapat
beriman tatkala miskin tapi melupakan Allah saat kunci-kunci gudang
hartanya tidak sanggup dipanggul tujuh orang. Ada pula yang lebih tepat
kaya, karena mampu mengatur kekayaannya sesuai tuntunan agama, misalnya
sahabat Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf.
Allah berfirman yang artinya, “Dan Jikalau Allah melampangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentunya mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi allah menurunkan apa yang dikehendakinya dengan ukuran. Sesungguhnya dia maha mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi maha melihat.” (QS. As Syura: 27)
Syukuri Apa yang Ada
Iri
dan dengki membuat diri sendiri lupa terhadap banyaknnya nikmat yang
diperoleh dan kelebihan yang dimiliki, hanya saja bentuk dan proporsinya
berbeda. Ia lebih fokus pada kekurangannya bukan potensinya. Ia merasa
kurang dan lemah, padahal bisa jadi orang yang didengki merasa tak lebih
beruntung dari orang yang mendengki. Seperti itulah godaan setan,
membisikkan bahwa ‘rumput tetangga lebih hijau’. Selain itu, tidak ada
jaminan bahwa tuntunan nafsu akan terhenti saat yang diinginkan dapat
diperoleh. Sebab, tabiat nafsu selalu merasa kurang.
Karena itu,
Rasulullah SAW memerintahkan selalu melihat ke ‘bawah’. Agar kita selalu
sadar bahwa ada banyak orang yang lebih sulit keadaannya. Sehingga kita
mensyukuri apa yang telah dimiliki.
“Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan rupa, maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Batin akan merasa tenang bila dapat menyeimbangkan antara
keinginan dan kenyataan. Dengan bersabar dan bersyukur ujian Allah
dapat dilalui dengan mudah. Alkisah, seorang wanita cantik menikah
dengan pria yang buruk rupa. Semua orang menyayangkan dan mencibir.
Bahkan ada yang berkata bahwa si wanita terkena guna-guna. Tapi hal itu
tak dapat membuat suami-istri tersebut goyah. Suatu hari sang istri
berkata kepada suaminya, “Suamiku allah memberi ujian kepadamu berupa
istri yang cantik, bersyukurlah. Sedangkan aku diuji dengan anda tapi
aku bersabar. Kita berdua mendapat pahala.”
Arahkan Kepada yang Positif
Segala
sesuatu tidak terjadi secara instan. Seseorang tidak begitu saja
terlahir pintar tanpa belajar. Orang yang pandai berceramah juga melalui
proses. Orang punya banyak teman karena pandai menjaga sikap dan
tingkah lakunya. Intinya keahlian diperoleh dari latihan yang tekun dan
kontinyu. Kadang, itu semua dilihat sebagai bakat dan telah ada sejak
lahir, namun pada hakekatnya hal itu adalah rahmat dan kemudahan dari
Allah SWT. Kullun muyassarun lima khuliqa lahu (setiap manusia
dimudahkan menuju untuk apa ia diciptakan). Jangan lihat hasilnya tapi
proses untuk mencapainya, begitu berat dan kadang mengharukan.
Bila
melihat orang lain beroleh nikmat kenapa rasa iri yang harus muncul?
Alangkah indahnya jika turut merasa bahagia. Hati akan merasa lebih
tenang dan ikatan ukhuwwah menjadi kian erat. Rasulullah saw bersabda,
“Tidak
sempurna iman seorangpun dari kalian hingga mencintai untuk saudaranya
apa yang ia cintai untuk dirinya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini adalah
tingkatan iman yang tinggi. Untuk menggapainya dengan melatih diri
dengan sifat itsar (altruisme), mementingkan orang lain dibanding diri
sendiri. Wallahu A’lam.
Saturday, July 7, 2012
Jadwal Pengisian Ibadah Ramadhan
AGar kita sukses dalam menjalani bulan Ramadhan, sebaiknya kita punya jadwal. sebagai contoh jadwal bisa di Download disini
Hukum Mencium Tangan dan Membungkukkan Badan
Tanya: “Ustadz benarkah bahwa mencium tangan orang dan membungkukkan badan maka hal tersebut bukanlah syariat Islam melainkan ajaran kaum feodalis? Jika demikian, mohon dijelaskan. Jazakumullah”.
Jawab: Ada beberapa hal yang ditanyakan:
Pertama, masalah cium tangan
1. Cium tangan tersebut tidaklah dijadikan sebagai kebiasaan. Sehingga pak
kyai terbiasa menjulurkan tangannya kepada murid-muridnya. Begitu pula murid
terbiasa ngalap berkah dengan mencium tangan gurunya. Hal ini dikarenakan Nabi
sendiri jarang-jarang tangan beliau dicium oleh para shahabat. Jika demikian
maka tidak boleh menjadikannya sebagai kebiasaan yang dilakukan terus menerus
sebagaimana kita ketahui dalam pembahasan kaedah-kaedah fiqh.
2. Cium tangan tersebut tidaklah menyebabkan ulama tersebut merasa sombong dan lebih baik dari pada yang lain serta menganggap dirinyalah yang paling hebat sebagai realita yang ada pada sebagai kyai.
3. Cium tangan tersebut tidak menyebabkan hilangnya sunnah Nabi yang sudah diketahui semisal jabat tangan. Jabat tangan adalah suatu amal yang dianjurkan berdasarkan perbuatan dan sabda Nabi. Jabat tangan adalah sebab rontoknya dosa-dosa orang yang melakukannya sebagaimana terdapat dalam beberapa hadits. Oleh karena itu, tidaklah diperbolehkan menghilangkan sunnah jabat tangan karena mengejar suatu amalan yang status maksimalnya adalah amalan yang dibolehkan (Silsilah Shahihah 1/159, Maktabah Syamilah).
Akan tetapi perlu kita tambahkan syarat keempat yaitu ulama yang dicium tangannya tersebut adalah ulama ahli sunnah bukan ulama pembela amalan-amalan bid’ah.
Dari uraian di atas semoga bisa dipahami dan dibedakan antara amalan yang dibolehkan oleh syariat Islam dan yang tidak diperbolehkan.
SUMBER ASLI
Jawab: Ada beberapa hal yang ditanyakan:
Pertama, masalah cium tangan
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani mengatakan,
“Tentang cium tangan dalam hal ini terdapat banyak hadits dan riwayat dari salaf yang secara keseluruhan menunjukkan bahwa hadits tersebut shahih dari Nabi. Oleh karena itu, kami berpandangan bolehnya mencium tangan seorang ulama (baca:ustadz atau kyai) jika memenuhi beberapa syarat berikut ini.
2. Cium tangan tersebut tidaklah menyebabkan ulama tersebut merasa sombong dan lebih baik dari pada yang lain serta menganggap dirinyalah yang paling hebat sebagai realita yang ada pada sebagai kyai.
3. Cium tangan tersebut tidak menyebabkan hilangnya sunnah Nabi yang sudah diketahui semisal jabat tangan. Jabat tangan adalah suatu amal yang dianjurkan berdasarkan perbuatan dan sabda Nabi. Jabat tangan adalah sebab rontoknya dosa-dosa orang yang melakukannya sebagaimana terdapat dalam beberapa hadits. Oleh karena itu, tidaklah diperbolehkan menghilangkan sunnah jabat tangan karena mengejar suatu amalan yang status maksimalnya adalah amalan yang dibolehkan (Silsilah Shahihah 1/159, Maktabah Syamilah).
Akan tetapi perlu kita tambahkan syarat keempat yaitu ulama yang dicium tangannya tersebut adalah ulama ahli sunnah bukan ulama pembela amalan-amalan bid’ah.
Kedua, membungkukkan badan
sebagai penghormatan
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَنْحَنِى بَعْضُنَا لِبَعْضٍ قَالَ « لاَ ». قُلْنَا أَيُعَانِقُ بَعْضُنَا بَعْضًا قَالَ لاَ وَلَكِنْ تَصَافَحُوا
Dari Anas bin Malik, Kami bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, apakah
sebagian kami boleh membungkukkan badan kepada orang yang dia temui?”.
Rasulullah bersabda, “Tidak boleh”. Kami bertanya lagi, “Apakah kami boleh
berpelukan jika saling bertemu?”. Nabi bersabda, “Tidak boleh. Yang benar
hendaknya kalian saling berjabat tangan” (HR Ibnu Majah no 3702 dan dinilai
hasan oleh al Albani).عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَنْحَنِى بَعْضُنَا لِبَعْضٍ قَالَ « لاَ ». قُلْنَا أَيُعَانِقُ بَعْضُنَا بَعْضًا قَالَ لاَ وَلَكِنْ تَصَافَحُوا
Dari uraian di atas semoga bisa dipahami dan dibedakan antara amalan yang dibolehkan oleh syariat Islam dan yang tidak diperbolehkan.
SUMBER ASLI
Friday, July 6, 2012
Keselamatan Bagi orang yang bertaqwa
Al Qur'an telah banyak memberikan petunjuk dan selalu diulang-ulang untuk menjadikan diri ini bertaqwa, karena dengan taqwa itulah yang akan mampu mengantarkan pada kehidupan mulia, dan derajat tertinggi. Ketaqwaan akan menjadi penentu kesuksesan yang selalu kita harapkan dalam berbagai munajad do'a, sehingga ketika kita berinteraksi di masyarakat inilah nilai-nilai ketaqwaan senantiasa tercerminkan.
Buya Hamka memberikan gambaran atas orang yang bertawa itu selalu menjaga hubungan yang baik dengan Allah SWT, mereka sadar sehingga tidak ingin hubungan baik dengan-Nya itu putus ataupun jauh karena akan membawa keterpurukan kehidupan. Dari upaya yang konsisten untuk selalu menjaga hubungan yang baik inilah semakin membukakan kesadaran kepada kita bahwa sejatinya hidup kita tidak bisa terlepas dari Rahman dan Rahim-Nya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al Qur'an Surat Az-Zumar : 61 :
Artinya : "Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, mereka tiada disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita."
Kemenangan yang diraih tersebut bukan berarti datang begitu saja, tetapi telah melalui perjuangan yang panjang, pergumulan yang melelahkan, dan berbagai benturan yang menyakitkan. Kerena prestasi ketaqwaan itulah sehingga Allah SWT layak memberikan kemenangan dan keselamatan.
Orang yang bertaqwa senantiasa sadar bahwa dalam dinamika kehidupan senantiasa diwarnai dengan berbagai gejolak menegangkan dan menakutkan, yang kadang kala jika kita lemah dan lengah bisa jadi akan terbawa pada arus penyesalan karena ketidakmampuannya dalam mendayagunakan potensi diri yang telah menjadi bekal kehidupan ini. Allah SWT telah memberikan kekuatan tulang dan persendian sehingga bisa digerakkan, maka potensi inipun dipergunakan untuk memksimalkan ibadah semisal sholat, Allah SWT pun juga telah memberikan potensi pada diri ini untuk melihat dan membaca, mendengar dan memperhatikan, serta berfikir dan berzikir, sehingga dari potensi inilah sesungguh kita mampu meraih kemenangan dan kesuksesan. Karena kemalasan dan ketidakseriusan sehingga potensi diri ini menjadi kerdil dan mudah terkalahkan oleh problematika kehidupan membuat semakin jauh hubungannya dengan AllahSWT. Pada ayat yang lain Allah SWT telah memerintahkan untuk aktif dan selalu mencari jalan agar lebih mendekatkan diri ini pada-Nya,
sebagaimana dalam Al Qur'an surat Al Maidah 35 :" Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang medekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah supaya kamu mendapat kemenangan".
Semoga kita konsisten dengan taqwa untuk keselamatan dan kemenangan




admin

Categories : 