Custom Search

Wednesday, July 1, 2015

Materi Ceramah dan Pidato tentang Nuzulul Qur'an

Bulan Ramadhan merupakan yang di dalamnya terlimpah berjuta ni'mat, salah satunya karena Al-Qur'an pertama kali diturunkan pada bulan ini dan pada bulan ini pula turunnya anugerah "lailatul qadar".
Firman Allah Ta'ala dalam surat Al-Baqarah : 185

Artinya : "Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan menjadi pembeda (furqan, antara yang haq dengan yang bathil)" (Al-Baqarah: 185).
Sisi lain dan diturunkannya Al-Qur'an adalah sebagai penyadaran bagi umat bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk yang sempurna dan paripurna bagi orang-orang bertaqwa (Al-Baqrah: 2). Dan sebagai petunjuk kehidupan, mestinya kita jadikan Al-Qur'an sebagai pengarah langkah kehidupan kita, pijakan setiap amal kita, parameter serta barometer segala kehidupan kita. Karena Allah telah menegaskan bahwa petunjuk Al-Qur'an lah yang paling "terjamin" segala kesempurnaannya -mengatur masalah syariat dan tata cara pelaksanaannya, (Al-Maidah: 48,50) maupun kemurnian (ashalah dan orisinalitas) ajarannya (Al-Hijr: 9).
Namun sayang banyak kita saksikan umat Islam kembali kepada Al-Qur'an setelah mengalami berbagai krisis kehidupan. Al-Qur'an hanya dijadikan pelarian ketika tidak ada lagi "cara pemecahan" lainnya. Ini berarti Al-Qur'an yang asalnya adalah "cahaya kehidupan" yang harus kita letakkan di depan langkah kita, baru diambil cahaya itu ketika "tersandung dan jatuh". Mestinya kita tidak bersikap demikian, karena kalau kita ingin sukses dunia akhirat, Al-Qur'an harus selalu ada di depan kita dan memandu seluruh amal kita.

Mengapa kita harus berhukum pada Al-Qur'an?
Pertama, karena Al-Qur'an memuat segala aturan dan permasalahan kehidupan kita, dan jawabannya atas segala sisi kehidupan manusia. Hal ini sangat logis karena Al-Qur'an diturunkan oleh Sang Maha Pencipta, Yang Maha Mengetahui seluruh ciptaan-Nya dan segala seluk-beluknya yang sangat rinci. Sehingga hanya Allah-lah yang paling pantas menentukan aturan kehidupan ini. Sebagai gambaran paling mudah misalnya sebuah pabrik melemparkan produk motor ke pasaran. Pabrik tersebut tentunya merancang mesin tersebut sesempurna mungkin, sehingga dialah yang paling tahu seluk-beluk motor yang dilempar ke pasaran. Disamping melempar produk, sebuah pabrik juga akan menyertakan "caution", yakni petunjuk penggunaan dan perawatan mesin. Gunanya agar motor yang dijual dapat berjalan baik selama mengikuti petunjuk perawatan, seperti ketentuan check-up, ganti oli, perawatan mesin, bahan bakar yang mesti digunakan, beserta larangan-larangan atau pantangannya. Bagi mereka "patuh" dijamin motor awet dan tahan lama serta dapat berfungsi baik sebagaimana mestinya. Tapi bagi mereka yang "tidak patuh atau ngeyel" masih baru sudah diprotoli, maka dijamin tidak akan lama "umur motor tersebut".
Demikian juga manusia diciptakan Allah dilengkapi aturan "penggunaan dan perawatan" atau juklak. Selama manusia tertib terhadap aturan main, Insya Allah dijamin awet, lancar dan bermanfaat dunia akhirat, serta membahagiakan diri dan orang lain.

Kedua, Al-Qur'an adalah juklak kehidupan yang terjamin orisinalitasnya. Sebagai perundang-undangan kehidupan, Al-Qur'an satu-satunya kitab yang tahan uji dan tahan terhadap berbagai upaya untuk menyelewengkan atau merusak Al-Qur'an. Sebagaimana janji atau komitmen Allah bahwa,
"Kami telah menurunkan Al-Qur'an dan Kami-lah yang senantiasa menjaganya" (Al-Hijr: 9).
Allah Azza wa Jalla berfirman, dalam surat al-Fushilat : 42
"...Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur'an) kebathilan, baik dari depan maupun dari belakang" (Fushilat: 42).
Komitmen ini dibuktikan dengan adanya mukjizat Al-Qur'an yang mudah dihafal, dipahami dan diamalkan. Ini sesuai dengan tabiat bahasa Arab yang mudah dihafal dan mudah dipahami serta diamalkan. Demikian juga banyak kita lihat ulama dan hafidz yang selalu menjaga kemurnian Al-Qur'an, tumbuhnya mujaddid (pembaharu) yang selalu menjaga dan mengembalikan Islam pada kemurniannya. Tumbuh suburnya Taman Pendidikan Al-Qur'an, TPA, TPQ, TK Al-Qur'an dan sebagainya. Sehingga bila ada satu huruf yang diganti, pasti Allah akan membeberkan kejahatan orang-orang yang mencoba merusak Al-Qur'an.

Ketiga, Al-Qur'an lah satu-satunya undang-undang kehidupan yang paling pas bagi manusia dn segenap semesta raya. Karena Al-Qur'an telah menjamin bagi orang berpijak di atasnya dengan benar, tidak akan sesat selamanya. Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat Al-Isra’ ayat 9
"Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus" (Al-Isra': 9).
Rasulullah SAW bersabda,
"Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara yang apabila berpegang kepadanya niscaya tidak akan tersesat selamanya, yaitu Al-Qur'an dan Sunah".
Al-Qur'an mampu menjawab pertanyaan besar yang ada dalam setiap pikiran manusia, min aina...ilaa ainaa...limadzaa? Dari mana kita berasal? Hendak kemana? Dan untuk apa kita hidup di dunia ini? Di dalam Al-Qur'an dipaparkan arah dan tujuan kehidupan, sejarah umat masa lalu dan prediksi (gambaran) kehidupan masa depan, berbagai peristiwa-peristiwa besar dalam kehidupan dan seluruh yang dibutuhkan. Semuanya ada dalam Al-Qur'an.
Juga atas pertanyaan "fitrah" terbesar yang ada dalam benak kita tentang siapa yang telah menciptakan kita? Kepada siapa hendaknya kita mengabdi dan memohon pertolongan? Dan bagaimana agar kita bisa hidup teratur, bahagia dan sejahtera selamanya? Al-Qur'an lah yang akan menjawab, yakni melalui risalah yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Allah Ta'ala berfirman,

"Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa Al-Huda (yakni Al-Qur'an) dan ditemui haq (Yakni Al-Islam), untuk memenangkan di atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik membencinya" (Ash-Shaff: 9).
Mengapa? Karena di dalam Al-Qur'an yang telah dibawa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam akan menunjuki manusia tentang pencipta yang Haq, yakni Allah Ta'ala. Menunjuki manusia tentang cara hidup yang teratur yakni dengan aturan Islam.

Keutamaan-Keutamaan Al-Qur'an
Disamping itu ada beberapa hal yang mesti dicatat oleh tiap muslim tentang keutamaan Al-Qur'an, keutamaan membaca dan menghafalnya. Ini dalam rangka meningkatkan iman dan cinta kepada Al-Qur'an pada khususnya, serta Al-Islam secara keseluruhan


  1. Al-Qur'an adalah kitab yang diberkahi (mubarak), pemberi cahaya (nuur), pembeda haq dan bathil (furqan), obat penyakit hati dan jiwa (syifa'ul limaa fish-shuduur), penjelas segala persoalan (al-bayan), petunjuk (al-huda) dan masih banyak nama Al-Qur'an sesuai fungsinya.
  2. Ahli Qur'an adalah sebaik-baik manusia. Rasulullah SAW bersabda, "Khairukum man ta'allamal Qur'aana wa 'allamahu... Rawahul Bukhari... sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya... hadits riwayat Bukhari".
  3. Orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur'an adalah sebaik-baik generasi, yakni generasi rabbani qur'ani, Allah Ta'ala berfirman, "jadilah kalian orang-orang (generasi) rabbani (generasi yang sempurna iman dan taqwanya), karena kalian senantiasa mengajarkan Al-Qur'an dan disebabkan kalian senantiasa mempelajarinya" (Ali Imran: 79).
  4. Ahli Qur'an digolongkan sebagai kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah mempunyai dua keluarga di antara manusia". Mereka bertanya, "Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?" Beliau bersabda, "Ahli Qur'an adalah keluarga Allah dan orang-orang yang khusus (pilihan)" (HR. Nasa'i, Ahmad dan Ibnu Majah).
  5. Menduduki kedudukan sesuai akhir ayat yang dibacanya. Rasulullah SAW bersabda, "Dikatakan kepada orang yang beriman dengan Al-Qur'an, "Bacalah dan bacalah sekali lagi serta tartilkanlah, seperti yang lengkau akukan di dunia, karena manzilahmu (kedudukanmu) terletak di akhir ayat yang engkau baca". (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad, Al-Baghawi, Ibnu Hibban, dan Hakim).

Tuesday, June 30, 2015

Tanda-Tanda Hati Yang Mendapat Hidayah

Hidayah hanyalah milik Alloh , dan Alloh  memberi hidayah kepada orang yang dikehendakinya. Barangsiapa yang Alloh  beri hidayah, tidak ada seorang pun yang bisa menyesatkannya dan barangsiapa yang telah Alloh  sesatkan, tidak ada seorangpun yang bisa memberi hidayah kepadanya. Alloh  berfirman :

Artinya : “Alloh memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.”  (QS. Al-Baqoroh [02]: 213)

Al Qur’an menggolongkan manusia menjadi dua golongan besar, yaitu golongan Al Muhtadun (Orang yang mendapat hidayah, QS. 9:18, QS. 39:17-18) dan golongan Ad Dhallun (orang yang sesat: QS. Al An’am 6:117,82). Atau juga disebut golongan Kafir dan golongan Mukmin (QS. At Taghaabun 64:2; QS 5:44; QS. 14 :2-3; QS. 23:1-11). Atau disebut juga golongan Al Muttaqun (orang yang bertaqwa: QS. Ali Imran 3:133-136; QS. 51:15-19; QS. 15:45-50) dan Al Mujrimun (orang yang berdosa: QS. Al An’am 6:55, 112, 123, 124, 147; QS. 7:40; QS. 10:17; QS. 14:49-52; QS. 26:99; QS. 30:47,55; QS. 18:53; QS. 32:12-14; QS. 20:100-104).

Kedua golongan manusia ini dijelaskan oleh Al Qur’an dengan cara yang sangat terang, dan rinci, agar manusia dapat mengenalnya sekaligus memilih mana yang disukainya sesuai dengan keimanan dan keilmuannya. Disebutkan pula ciri-ciri dan karakter masing-masing.
Berikut ini, ciri dan tanda orang-orang yang mendapat hidayah Allah Subhannahu wa Ta'ala (Al Muhtadun) akan saya bagikan :

1. Al Muhtadun (Orang yang hatinya bersih / bercahaya.

Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu'Alaihi Wasallam membacakan ayat berikut:
“Maka Apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Az Zumar, 39:22).
Maka ,kami (para sahabat) berkata: Wahai Rasulullah! Bagaimanakah caranya mengetahui hati dilapangkan atau dibuka oleh Allah? Beliau menjawab: “Bila hati seseorang sudah masuk kedalamnya Nur (cahaya Iman) maka dia akan menjadi lapang dan terbuka.” Mereka (para Sahabat) bertanya: “Apakah tandanya hati yang terbuka dan lapang itu ya Rasulullah.” Beliau menjawab: “Fokus (pusat) perhatiannya sangat kuat terhadap kehidupan yang kekal dan abadi di akhirat, dan tumbuh kesadaran yang tinggi terhadap tipu daya kehidupan dunia yang sekarang ini, lalu dia berkerja keras mempersiapkan bekalan menghadapi mati sebelum datangnya mati itu.” (HR. Ibnu jarir)
Dalam satu riwayat Ibnu Umar ra berkata:
“Pada suatu hari aku datang menjumpai Rasulullah sebagai orang yang kesepuluh .( Beliau sedang berada di tengah-tengah sahabat-sahabat terkemuka). Tiba-tiba salah seorang sahabat ansahr berdiri dan bertanya kepada Rasulullah,“ya Nabi Allah, siapakah orang yang paling pintar dan orang yang paling cerdas otaknya? Rasulullah Shallallahu'Alaihi Wasallam menjawab: “Yang paling cerdas dan paling pintar ialah orang yang palinng banyak mengingat mati, yang paling banyak menyiapkan bekal untuk menghadapi kematian. Mereka pulang (ke akhirat) dengan ketinggian dunia dan kemualiaan akhirat.” (HR. Tahbrany dengan sanad yang hasan)
Orang yang paling banyak mengingat mati itulah yang dianggap oleh Rasulullah sebagai orang yang paling pintar dan cerdas karena orang yang paling banyak mengingat mati itulah yang paling lengkap bekal untuk mati, sehingga dialah orang yang mendapat kemuliaan di dunia dan kehormatan di akhirat nanti.
Dan Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan Barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya (orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah), niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS Al An’am 6:125)
Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang tidak membuka seluruh hatinya (jiwanya) untuk menerima dan memeluk Islam, maka Allah Subhannahu wa Ta'ala tidak akan memberikan petunjuk yang sempurna kepadanya untuk memahami dan mengamalkan Islam. Mereka menjadi orang yang peragu, tidak memiliki prinsip yang jelas, terombang- ambing oleh dunia yang mengelilinginya.kiki emotikon

Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang tidak membuka seluruh hatinya (jiwanya) untuk menerima dan memeluk Islam, maka Allah Subhannahu wa Ta'ala tidak akan memberikan petunjuk yang sempurna kepadanya untuk memahami dan mengamalkan Islam. Mereka menjadi orang yang peragu, tidak memiliki prinsip yang jelas, terombang- ambing oleh dunia yang mengelilinginya.kiki emotikon.

2.Orang yang selalu mengikuti petunjuk dan sunnah Rasulullah Shallallahu'Alaihi Wasallam.
“Hai ahli Kitab, Sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan, dengan kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al Ma’idah, 5:15-16)

3.Orang yang hidupnya mengikuti system hidup Islam saja.
“dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’am, 6:153)

4.Orang yang tidak mengikuti system Thaghut
“dan orang-orang yang menjauhi Thaghut (yaitu) tidak menyembah- nya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku, yang mendengarkan Perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. mereka Itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Az Zumar, 39:17-18)
Dan firman Allah Subhannahu wa Ta'ala lagi:
“dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. An Nahl, 16:36)

5.Orang yang tidak mencampur-baurkan yang Haq dan yang batil.
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al An’am, 6:82)
“dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah, 2:42)
Al Mujrimun adalah orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya dan mengikuti tradisi Kafir Jahiliyah.
“Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa’, 4:115)
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. (QS. Al Baqarah, 2:170)
“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. mereka menjawab: “Cukuplah untuk Kami apa yang Kami dapati bapak-bapak Kami mengerjakannya”. dan Apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?.” (QS. Al Ma’idah, 5:104)
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”. mereka menjawab: “(Tidak), tapi Kami (hanya) mengikuti apa yang Kami dapati bapak-bapak Kami mengerjakannya”. dan Apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?” (QS. Lukman, 31:21)


Cara agar mendapatkan hidayah yang sempurna
A.Dengan menyerahkan hati (jiwanya) secara total kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala .
“Dan Barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang Dia orang yang berbuat kebaikan, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. Dan Barangsiapa kafir Maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala isi hati. Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras..” (QS. Luqman, 31:21-24)
“(tidak demikian) bahkan Barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, Maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al Baqarah, 2:112)
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.” (QS. An Nisa’, 4:125)
Katakanlah: “Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, Padahal Dia memberi makan dan tidak memberi makan?” Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali menyerah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang musyrik.” (QS. Al An’am, 6:14).

B.Dengan mentaati seluruh ajaran Islam (baik yang disukai atau yang tidak disukai).
“Maka Apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, Padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (QS. Ali Imran, 3:83)
“Dan sesungguhnya di antara Kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang yang taat, Maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus.” (QS. Al Jin, 72:14).
C.Dengan bersungguh-sungguh mencari hidayah, yaitu dengan mempelajari Al Qur’an dan Sunnah.
“Itulah petunjuk (hidayah) Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. Mereka Itulah orang-orang yang telah Kami berikan Kitab, hikmat dan kenabian jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, Maka Sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya. Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, Maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran).” Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.” (QS. Al An’am, 6:88-90)
“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk Maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat Maka Sesungguhnya Dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.” (QS. Az Zumar, 39:41)
“… Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka Dialah yang mendapat petunjuk; dan Barangsiapa yang disesatkan-Nya, Maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al Kahfi, 18:17)
“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), Maka Sesungguhnya Dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang sesat Maka Sesungguhnya Dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al Isra’, 17:15)
Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalan-Nya.” (QS. Al Isra’, 17:84)
D.Dengan bersungguh- sungguh beramal sesuai hidayah, Allah akan menambah hidayah kepadanya.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Ankabut, 29:69)
“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi [Yang dimaksud dengan tentara langit dan bumi ialah penolong yang dijadikan Allah untuk orang-orang mukmin seperti malaikat-malaikat, binatang-binatang, angin taufan dan sebagainya] dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Fath, 48:4)
“Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan Balasan ketaqwaannya.” (QS. Muhammad, 47:17)
E.Perintah Untuk mengamalkan Islam secara Total.
Oleh karena Islam merupakan jaminan keselamatan dunia dan akhirat, maka Allah Subhannahu wa Ta'ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mengamalkan Islam secara menyeluruh (komprehensif). Dan melarangnya untuk mengamalkan Islam sebagian-sebagian (parsial), yakni sekehendak keinginan hawa nafsunya.^^
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. al Baqarah, 2: 208)
Asbabun Nuzul Ayat :
Ibnu Jarier menyebutkan sebuah riwayat yang bersumber dari Ikrimah ra, ia mengatakan: Bahwa Abdullah bin Salam, Tsa’labah, Ibnu Yamin, Asad dan Usaid kedua anak Ka’ab, Syu’bah bin ‘Amr dan Qais bin Zaid, semuanya dari golongan Yahudi, mereka berkata kepada Rasulullah:
Wahai Rasulullah, hari Sabtu adalah hari yang kami muliakan, biarkanlah kami merayakannya. Taurat adalah kitab Allah, biarkanlah kami mengikuti dan mengamalkannya pada malam harinya. Lalu Allah turunkanlah ayat yang berbunyi: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, sampai akhir… Tafsir ath Thabari, Jaami’ al Bayaan fie Ta’wiil al Qur’an, 2/337.
Ibnu Abbas ra meriwayatkan: Bahwa ayat ini Allah turunkan berkenaan dengan orang-orang Ahlul kitab (Yahudi dan Nashara), artinya Allah menyeru kepada mereka:
“Wahai orang-orang yang beriman kepada Musa dan Isa, masuklah kamu ke dalam Islam dengan Muhammad Shallallahu'Alaihi Wasallam keseluruhannya.”
Seperti yang terdapat dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang bersumber dari Abu Hurairah ra ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu'Alaihi Wasallam telah bersabda:
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tiada seorang pun di kalangan ummat ini yang mendengar (ajaran)ku baik dari golongan Yahudi maupun Nashrani kemudian ia mati sementara ia tidak beriman dengan risalah yang aku bawa (Islam) kecuali ia akan mati menjadi penghuni neraka.” (HR Muslim, no.153) Imam al Qurthuby, al Jaami’ li ahkaamil Qur’an, 3/18.
Muqatil ra mengatakan:
Abdullah bin Salam dan teman-temannya pernah meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu'Alaihi Wasallam untuk membaca kitab Taurat dalam shalat serta mengamalkan sebagian dari ajaran Taurat tersebut. Lalu Allah turunkan ayat: Dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya mengikuti sunnah lebih utama setelah diutusnya Muhammad Shallallahu'Alaihi Wasallam daripada mengikuti langkah-langkah syetan. Dan dikatakan janganlah kamu mengikuti jalan orang yang menyeru kamu kepada syetan, karena sesungguhnya syetan itu musuhmu yang paling nyata. (Imam al Qurthuby, al Jaami’ li ahkaamil Qur’an, 3/18).
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Faathir, 6)
Pembagian Hati dan Kewajiban Mukmin Memelihara Hatinya:
Abu Sa’id ra mengatakan, bahwa Rasulullah Shallallahu'Alaihi Wasallam bersabda:
Hati manusia ada empat ; 1. hati yang bersih di dalamnya terang bagaikan lampu, 2. Hati yang tertutup dan terikat tutupnya, 3. Hati yang tengkurap, 4. Hati yang berlapis-lapis.
Adapun hati yang bersih maka itu adalah hati orang mukmin, lampunya ialah cahaya imannya. Adapun hati yang tertutup adalah hati orang kafir. Adapun hati yang tengkurap adalah hati orang munafik yang asli, ia mengetahui kemudian mengingkarinya. Adapun hati yang berlapis, maka hati yang ada iman dan nifak, perumpamaan iman di dalamnya bagaikan biji yang disirami air yang baik dan contoh nifak bagaikan luka yang mengeluarkan darah dan nanah, maka benda yang mana lebih banyak (kuat mengalahkan yang lain)
Berkata Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan min masyayidisy Syaithan (Bekalan/Senjata untuk melumpuhkan godaan-godaan Syetan), bahwasanya hati (qalbun) itu ada tiga(3), yaitu:
1.Qolbun Salim, yaitu hati yang sehat/selamat. Itulah hatinya orang-orang yang beriman
2.Qalbun Maridh, yaitu hati yang sakit. Itulah hatinya orang-orang munafik.
3.Qalbun mayyit, yaitu hati yang mati. Itulah hatinya orang-orang yang kafir atau musyrik.
Orang-orang beriman wajib memelihara hatinya agar senantiasa selamat,karena sesungguhnya bagian anggota tubuhnya yang paling penting ialah hatinya. Berkata Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin: “sesungguhnya perumpamaan hati di dalam tubuh manusia seperti kepala negara bagi satu negara. Apabila hati baik maka baiklah tubuh badan itu. Apabila dia rusak maka rusaklah seluruh tubuh badan. Demikian pula halnya kepala Negara, apabila kepala negaranya baik dan sholeh maka baik dan sholehlah negaranya.” kiki emotikon
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh badan manusia ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik maka baiklah seluruh tubuh manusia dan apabila dia rusak maka rusaklah seluruh tubuh manusia. Ketahuilah, bahwa dia itu adalah hati.” (HR. Bukhari)
Untuk memelihara hati agar ia tetap sehat dan bertambah sehat serta istiqomah dalam iman dan taqwa, dan menjadikan hati yang sakit dan mati menjadi sehat dan hidup, maka obatnya ialah Al-Qur’an. Firman Allah Subhannahu wa Ta'ala QS. Yunus, ayat 57-58. dan Al-Isra’, ayat 82.
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus, 10:57-58)

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra’, 17:82)



Keutamaan Sepuluh Hari ketiga Ramadhan

Ummul Mu`minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada 10 terakhir Ramadhan kurang lebih sebagai berikut :

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki 10 terakhir Ramadhan, beliau mengencangkan tali sarungnya (yakni meningkat amaliah ibadah beliau), menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan istri-istrinya.” Muttafaqun ‘alaihi

Pertama : Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serius dalam melakukan amaliah ibadah lebih banyak dibanding hari-hari lainnya. Keseriusan dan peningkatan ibadah di sini tidak terbatas pada satu jenis ibadah tertentu saja, namun meliputi semua jenis ibadah baik shalat, tilawatul qur`an, dzikir, shadaqah, dll.

Kedua : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangunkan istri-istri beliau agar mereka juga berjaga untuk melakukan shalat, dzikir, dan lainnya. Hal ini karena semangat besar beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam agar keluarganya juga dapat meraih keuntungan besar pada waktu-waktu utama tersebut. Sesungguhnya itu merupakan ghanimah yang tidak sepantasnya bagi seorang mukmin berakal untuk melewatkannya begitu saja.

Ketiga : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada 10 Terakhir ini, demi beliau memutuskan diri dari berbagai aktivitas keduniaan, untuk beliau konstrasi ibadah dan merasakan lezatnya ibadah tersebut.

Keempat : Pada malam-malam 10 Terakhir inilah sangat besar kemungkinan salah satu di antaranya adalah malam Lailatur Qadar. Suatu malam penuh barakah yang lebih baik daripada seribu bulan.

Keutamaan Sepuluh Hari kedua Ramadhan

Setelah berhasil melalui fase pertama yang sudah pasti cukup berat karena tubuh dan pikiran berusaha beradaptasi dengan kondisi saat puasa, maka 10 hari kedua Ramadhan ini mungkin akan terasa lebih ringan karena akhirnya tubuh sudah mulai terbiasa dengan aktivitas puasa yang menuntut seseorang untuk tidak makan dan minum dimulai sejak matahari terbit hingga saat matahari terbenam.

Untuk keutamaan 10 hari kedua Ramadhan seperti yang disebutkan didalam hadist Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dimana Ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Awal bulan Ramadhan adalah Rahmah, pertengahannya Maghfirah dan akhirnya Itqun Minan Nar (pembebasan dari api neraka)”. Nah, pada fase kedua atau fase 10 hari kedua Ramadhan inilah Allah membukakan pintu magfirah atau ampunan yang seluas-luasnya.

Karenanya Jangan sampai kita melewatkan hari-hari penuh ampunan yang telah dijanjikan oleh Allah SWT dengan sia-sia. Pada waktu-waktu inilah saat yang paling tepat untuk memperbanyak doa serta memohon ampunan kepada Allah SWT atas segala dosa-dosa yang telah kita lakukan di masa lalu agar diampuni dan dibebaskan dari hukuman.

Perbanyaklah melakukan sholat malam, berdoa dan berdzikir karena pada 10 hari kedua Ramadhan ini merupakan kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT untuk mengurangi dosa-dosa yang telah kita perbuat. Dengan memohon ampunan dengan tulus dan bersungguh-sungguh serta bertobat dari hati yang terdalam Insya Allah pasti mendapatkan ampunan-Nya.



Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Ramadhan

Pada sepuluh hari pertama bulan Ramadhan Allah SWT memberikan rahmat  dan limpahan pahala dari berbagai amalan yang kita lakukan selama puasa. Fase-fase 10 hari pertama Ramadhan memang merupakan fase terberat dan tersulit karena merupakan fase peralihan dari kebiasaan pola makan normal menjadi harus menahan lapar dan haus mulai dari subuh hingga magrib.

Selain itu ternyata tidak hanya tubuh saja yang melakukan adaptasi, pada fase 10 hari pertama Ramadhan ini pikiran kita juga sedang berusaha melakukan beradaptasi atau penyesuaian dengan penuh kesabaran dan keikhlasan untuk dapat menunaikannya. Oleh sebab itu pada 10 hari pertama Ramadhan ini Allah SWT memberikan keistimewaan dengan membukakan pintu rahmat yang sebesar-besarnya bagi hamba-Nya yang telah sabar dan ikhlas dalam menunaikan puasa selama 10 hari pertama dibulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Untuk itu jangan sampai kita melewatkan kesempatan mendapatkan rahmat dari Allah SWT selama 10 hari pertama Ramadhan dengan hanya berdiam diri tanpa melakukan aktifitas. Manfaatkanlah setiap hari dibulan Ramadhan sebagai ladang ibadah. Lakukanlah kebaikan sebanyak-banyaknya dengan memperbanyak tilawah Al Quran, berdoa, sholat shunah, beramal shaleh dan membantu orang lain. Selain itu bekerja, memperbanyak silahturahmi, serta menjaga hubungan baik juga merupakan sebuah ibadah. Semoga semua ibadah yang kita lakukan selama bulan Ramadhan diberkahi serta dirahmati Allah SWT.

PERANG UHUD (Perang di Zaman Rasulullah)

Sementara itu, pada sisi yang lain, tatkala berkecamuk Perang Uhud, kaum muslimin kalah dari kaum kafi yang mengingkati tauhid. Penyebabnya karena pasukan Islam kurang mematuhi perintah sang pemimpin, Rasulullah SAW dan orang-orang yang beriman:

“Dan Mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu Telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" (Ali Imran: 165).

Padahal sebelumnya kalian telah meraih kemenangan di Perang Badar. Sekarang, setelah kalian mendapat kekalahan, kalian berkata, "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" kaum muslimin merasa heran; mengapa mereka ditimpa kekalahan dalm perang melawan kaum musyrikin ini?

Lalu datanglah jawaban langsung dari Allah SWT. Dia berfirman :

قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya : “...Katakanlah, ’Itudari (kesalahan) dirimu sendiri.’ Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Ali Imran: 165)

Pada Perang Uhud, kaum muslimin bukan hanya tidak mematuhi strategi dan taktik yang telah diajarkan saja, yaitu ketika para pemanah di atas bukit meninggalkan pos-pos mereka untuk mengambil harta rampasan perang. Akan tetapi, mereka juga melakukan pelanggaran yang sangat berbahaya, yaitu penodaan hati.

Allah SWT berfirman :

...مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ...

“...Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat...” (Ali Imran: 152).

“Burung-burung Ababil” itu tidak turun membantu kaum muslimin guna menyelamatkan mereka dari kesalahan dan pelanggaranyagn mereka lakukan. Sebab, sunatullah yang telah Allah SWT tetapkan untuk umat ini adalah:

“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7).

Hendaklah kita selalu sadar bahwa sekarang kita tak lagi hidup di zaman Abrahah! Akan tetapi kita berada di zaman Rasulullah SAW; zaman sunnah Rasulullah SAW dan sunnah yang disyariatkan Allah SWT bagi umatnya.

PERANG KHANDAQ (AHZAB) / Perang di Zaman Rasulullah

Sejarah Islam (Perang di Zaman Rasulullah
PERANG KHANDAQ

Pada peperangan ini pasukan kaum kafir berjumlah sepuluh ribu orang. Mereka mengepung Nabi dan Rasul paling mulia Muhammad SAW, dan para shahabat yang utama. Umat Islam terancam dibumihanguskan hingga ke akar-akarnya.
Kebenaran yang sempurna ada di kota Madinah, sedangkan kebatilan yang mengakar sedang mengepungnya. Sementara itu, “burung-burung Ababil” tak kunjung turun untuk menghabisi pasukan kaum kafir. Kaum kafir tidak tertimpa kebinasaan, malapeteka, kehancuran, serta badai topan. Sunatullah yang ada pun berlaku :

Artinya : “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7).

  • Harus ada keyakinan kuat untuk meraih kemenangan
  • Kaum beriman harus bersatu padu
  • Harus ada perencanaan yang tepat
  • Harus menggali parit
  • Harus sabar menahan lapar
  • Harus melakukan sumpah dan janji setia
  • Harus memecah belah kekuatan kaum musyrikin dengan kaum Yahudi
  • Harus mahir bertempur
  • Harus mempunyai badan intelejen dan informasi yang akurat.
Semua itu diramu dan disatupadukan dengan akidah yang lurus dan ibadah yang benar. Jika hal tersebut telah terpenuhi, niscaya pertolongan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang tegar dan kokoh akan segera turun. “burung-burung Ababil” atau yang semisalnya akan segera datang.

Pertolongan itu akan datang berbentuk angin kencang serta perpecahan dan pertikaian antara kaum musyrikin denga kaum Yahudi. Wujudnya berupa rasa takut dan cemas, berupa rasa gentar dan nyali yang ciut. Namun, di atas segalanya, yang penting kita harus berbuat dan berjuang; terus beramal saleh. Ya, amal perbuatan yang semata-mat ikhlas karena Allah SWT.





PERANG BADAR (Perang di zaman Rasulullah)

Seburuk-buruk generasi adalah orang-orang kafir yang dipimpin oleh “Fir’aun umat ini”, yaitu Abu Jahal. Mereka telah memerangi generasi umat terbaik yan gpernah hidup di muka bumiyang berada di bawah komando baginda Rasulullah SAW.

Namun demikian, “burung-burung Ababil” tidak akan menghampiri kaum kafir untuk mencegah peperangan dan pertempuran di antara kedua pasukan tersebut. Justru yang terjadi sebaliknya, semua perangkat dan kondisi yang ada mendorong kedua pasukan ini ingin berperang, walaupun kedua pasukan ini enggan untuk berperang. Allah SWT berfirman :


وَلَوْ تَوَاعَدْتُمْ لَاخْتَلَفْتُمْ فِي الْمِيعَادِ وَلَكِنْ لِيَقْضِيَ اللَّهُ أَمْرًا كَانَ مَفْعُولًا

Artinya : “Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan...” (Al Anfal: 42).



وَإِذْ يُرِيكُمُوهُمْ إِذِ الْتَقَيْتُمْ فِي أَعْيُنِكُمْ قَلِيلًا وَيُقَلِّلُكُمْ فِي أَعْيُنِهِمْ لِيَقْضِيَ اللَّهُ أَمْرًا كَانَ مَفْعُولًا وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ

Artinya : “Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu sekalian, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan matamu dan kamu ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, Karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan. dan hanyalah kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan.” (Al Anfal: 44).

Walau bagaimanapun pertempuran pasti terjadi. Namun, sebelum pertempuran dimulai “burung-burung Ababil” tidak kunjung turun mengambil bagian. Padahal, pasukan kaum beriman jauh berlipat-lipat lebih mulia di sisi Allah SWT dibandingkan dengan penduduk kota Makkah ketika diserbu oleh Abrahah. Yang terjadi adalah sunatullah yang baru :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Artinya : “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7).

Isi dari aturan baru dalam menghadapi kaum zalim ini adalah :
  • Mesti memilih tempat (posisi) yang tepat
  • Mesti melakukan musyawarah yang bersih /hakiki
  • Mesti mengatur dan menyusun abgian yang kokoh
  • Mesti menyatukan dan mengharmoniskan hati
  • Mesti membawa pedang (senjata)
  • Harus ada perencanaan (strategi) yang jitu dan akurat
  • Harus memanjatkan doa sepenuh hati
  • Harus memiliki keteguhan hati yang kokoh; dan
  • Harus dilalui dengan penderitaan, luka yang mengoyak, darah yang bersimbah, dan gugurnya para syuhada.
Baru setelah semua ini dilalui, “burung-burung Ababil” pun turun. Pertolongan Allah SWT akan datang berupa malaikat, hujan, rasa takut dan gentar yang menyusupu hati orang-orang kafir, atau perepecahan dan pertiakian yang etrjadi di tengah-tengah barisan musuhdalam bentuk apa saja yang dikehendaki Allah SWT, Rabb semesta alam. Akan tetapi, yang paling penting adalah harus berbuat dan berusaha; harus bergerak dan berjuang secara aktif.